Domba diajarkan untuk takut kepada serigala. Padahal, bukan serigala yang menentukan akhir hidupnya. Sejak menjadi bagian dari kawanan, seekor domba belajar mengenali banyak hal. Padang rumput yang aman, arah pulang, suara penggembala, dan tentu saja... serigala. Serigala tidak pernah datang membawa kabar baik. Kehadirannya selalu cukup untuk membuat seluruh kawanan berlarian. Tak perlu ada yang memberi aba-aba. Ketakutan seolah sudah menjadi naluri yang diwariskan dari satu kawanan ke kawanan berikutnya. Barangkali memang begitu seharusnya. Serigala adalah ancaman yang mudah dikenali. Namun ada satu hal yang terasa aneh. Seluruh kawanan mengenal serigala sebagai musuh, tetapi hampir tak pernah mempertanyakan kepada siapa mereka berlari ketika rasa takut itu datang. Bagi seekor domba, serigala adalah bahaya yang memiliki wajah. Ia terlihat, terdengar, dan sesekali benar-benar muncul di antara rerumputan. Tak ada yang aneh jika kawanan domba menghindarinya. Mereka hanya s...
Baca Artikel
Artikel
Panem et Circenses: Seni Mengelola Massa di Roma Kuno
Pada akhir abad pertama Masehi, seorang penyair Romawi bernama Juvenal menulis sebuah kritik sosial yang kemudian hidup jauh lebih lama dibanding banyak kaisar yang pernah memerintah Roma. Kritik itu sangat singkat. Hanya dua kata. Panem et circenses. Secara harfiah berarti "roti dan hiburan". Sepintas, frasa tersebut tidak terdengar seperti sebuah kritik. Justru terdengar seperti gambaran kehidupan yang nyaman. Ada makanan untuk mengisi perut dan ada hiburan untuk mengisi waktu luang. Namun bagi Juvenal, dua hal itu menggambarkan sesuatu yang lebih besar tentang masyarakat Romawi pada masanya. Hampir dua ribu tahun kemudian, istilah tersebut masih menjadi salah satu ungkapan paling terkenal yang diwariskan oleh dunia Romawi. Kota Terbesar Untuk memahami mengapa Juvenal menulis panem et circenses , kita perlu melihat seperti apa Roma pada masa itu. Pada puncak kejayaannya, Roma bukan hanya ibu kota sebuah kekaisaran. Ia adalah pusat dunia Mediterania. Jalur p...