Bukankah Kemarin Sudah Makan?

Saya punya pertanyaan yang mungkin sudah lama mengganggu peradaban manusia.

Kenapa kita harus makan?

Serius.

Kemarin saya sudah makan. Bahkan tiga kali. Hari ini harus makan lagi. Besok juga. Minggu depan juga. Bulan depan juga.

Bukankah itu sedikit berlebihan?

Coba bayangkan kalau setiap kali kita mengisi bensin kendaraan, besoknya tangki masih penuh. Betapa efisiennya hidup ini. Namun tidak. Tubuh manusia tampaknya dirancang oleh Tuhan dengan sistem yang mengharuskan kita terus memperbarui energi, seperti layanan berlangganan yang tidak pernah bisa dibatalkan.

Makan pagi.
Makan siang.
Makan malam.
Ulangi sampai meninggal.

Tidak ada paket seumur hidup. Tidak ada pembayaran sekali untuk penggunaan permanen. Semua harus diperpanjang setiap hari.

Yang lebih menarik, kita bahkan menghabiskan banyak waktu memikirkan apa yang akan dimakan berikutnya, padahal makanan sebelumnya belum terlalu jauh meninggalkan ingatan.

"Siang makan apa?"

Pertanyaan yang sering muncul beberapa jam setelah sarapan.

Seolah-olah tubuh sedang menjalankan sebuah proyek tanpa akhir yang membutuhkan pasokan material terus-menerus. Namun semakin dipikirkan, mungkin masalahnya bukan pada makan.

Masalahnya adalah kita sering menganggap sesuatu menjadi tidak penting hanya karena ia berulang.

Kita tidak mempertanyakan matahari yang terbit setiap pagi.
Kita tidak mempertanyakan kenapa harus tidur setiap malam.
Kita tidak mempertanyakan kenapa harus bernapas setiap menit.

Karena semua itu sudah menjadi bagian dari hidup.

Makan juga demikian. Bukan pekerjaan besar. Tidak spektakuler. Tidak menghasilkan sertifikat, penghargaan, atau tepuk tangan.

Tetapi coba hentikan beberapa hari saja. Tiba-tiba semua hal yang dianggap penting menjadi tidak penting lagi.

Ternyata banyak hal dalam hidup bekerja seperti itu. Mereka tidak menarik perhatian karena selalu ada. Justru ketika hilang, kita baru sadar nilainya.

Jadi mungkin pertanyaan "Kenapa kita harus makan?" tidak pernah benar-benar tentang makan.

Mungkin itu tentang ketidaksabaran kita menghadapi sesuatu yang harus terus dilakukan tanpa garis akhir.

Padahal sebagian besar hidup memang seperti itu.

Dirawat, bukan diselesaikan.
Diulang, bukan dituntaskan.

Dan besok pagi, seperti jutaan manusia lainnya, saya akan kembali duduk di depan piring sambil berpikir:

"Ini lagi?"

Komentar