Mengapa Domba Takut kepada Serigala?

Domba diajarkan untuk takut kepada serigala. Padahal, bukan serigala yang menentukan akhir hidupnya.

Sejak menjadi bagian dari kawanan, seekor domba belajar mengenali banyak hal. Padang rumput yang aman, arah pulang, suara penggembala, dan tentu saja... serigala.

Serigala tidak pernah datang membawa kabar baik. Kehadirannya selalu cukup untuk membuat seluruh kawanan berlarian. Tak perlu ada yang memberi aba-aba. Ketakutan seolah sudah menjadi naluri yang diwariskan dari satu kawanan ke kawanan berikutnya.

Barangkali memang begitu seharusnya. Serigala adalah ancaman yang mudah dikenali.

Namun ada satu hal yang terasa aneh.

Seluruh kawanan mengenal serigala sebagai musuh, tetapi hampir tak pernah mempertanyakan kepada siapa mereka berlari ketika rasa takut itu datang.

Bagi seekor domba, serigala adalah bahaya yang memiliki wajah. Ia terlihat, terdengar, dan sesekali benar-benar muncul di antara rerumputan.

Tak ada yang aneh jika kawanan domba menghindarinya. Mereka hanya sedang melakukan apa yang selama ini mereka ketahui.

Semakin sering kisah tentang serigala diceritakan, semakin sedikit alasan untuk mempertanyakan rasa takut itu.

Lama-kelamaan, rasa takut tidak lagi membutuhkan kehadiran serigala. Bayangannya saja sudah cukup membuat kawanan bergerak ke arah yang sama.

Ironi

Di tengah kepanikan itu, tidak banyak domba yang berhenti sejenak untuk melihat ke mana mereka berlari.

Mereka hanya mengikuti kawanan. Mungkin karena kawanan tidak pernah salah.

Atau mungkin karena arah itu sudah terasa begitu akrab sehingga tak lagi perlu dipertanyakan.

Yang penting, semakin jauh dari serigala.

Di dekat penggembala, padang rumput terasa tenang. Tidak ada serigala yang berani mendekat. Kawanan kembali merumput seperti biasa, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Hari berganti hari. Musim berganti musim.

Domba tumbuh, kawanan bertambah, dan penggembala tetap berjalan di depan.

Tidak ada alasan untuk merasa gelisah ketika semuanya tampak berjalan sebagaimana mestinya.

Barangkali karena itulah tidak ada yang bertanya mengapa beberapa domba tidak pernah kembali ke padang rumput.

Penutup

Serigala tetap dikenang sebagai ancaman yang paling menakutkan. Setiap kemunculannya selalu mengundang kepanikan.

Sementara itu, penggembala tetap berjalan bersama kawanan. Langkahnya tenang, suaranya akrab, dan kehadirannya tak pernah dianggap sebagai sesuatu yang perlu dicurigai.

Begitulah kisah itu terus berulang.

Domba selalu diajarkan untuk mengenali serigala.

Tetapi tidak pernah diajarkan untuk bertanya mengapa mereka harus berjalan ke arah yang sama.

Author

Randi Iskandar

Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat, jangan ragu untuk membagikannya. Terima kasih sudah membaca!

Baca Profil Lengkap

Komentar

Avatar
Penghuni 60
memberi komentar...
apakah sama halnya dengan tikus dan kucing?
Avatar
Mas Agus
memberi komentar...
Mungkin itu DNA yang diwariskan dari generasi domba sebelum nya sehingga kalo lihat serigala langsung reflek lari karena alam bawah sadarnya.

Avatar
Michael "Dije" David
memberi komentar...
salah satu binatang favoritku. domba-domba ini terkenal bodoh, dia cuma ngandelin gembalanya doang. ini kayak gambaran kita yg ga bisa hidup tanpa Sang Pencipta ga sih? 🥲